Love Story
-
-
Di bulan Juli yang biasa saja, dua orang asing dipertemukan oleh sesuatu yang tak terlihat—sebuah notifikasi sederhana di sosial media. Tidak ada yang istimewa pada awalnya, hanya balasan singkat, lalu percakapan ringan yang perlahan menjadi kebiasaan. Hari-hari berlalu, dan tanpa sadar, mereka mulai saling menunggu pesan satu sama lain.
Mereka belum pernah bertemu, tapi cerita sudah mengalir seperti dua sahabat lama. Dari hal receh sampai mimpi-mimpi besar, semuanya dibagi. Namun, seperti hubungan yang tumbuh dari kata-kata, mereka juga rentan pada makna yang salah.
Mereka sering bertengkar, bahkan tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Ada saat-saat di mana mereka hampir menyerah, merasa mungkin ini tidak seharusnya dipertahankan.
Tapi anehnya, setiap kali ingin pergi, selalu ada alasan untuk kembali.
Mereka belajar. Bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang memahami. Bahwa tidak semua diam berarti marah, tidak semua jarak berarti ingin pergi. Mereka mulai berbicara lebih jujur, lebih terbuka, dan lebih sabar.
Hingga akhirnya, setelah sekian lama hanya bertemu lewat layar, mereka bertemu di dunia nyata.
Tidak ada momen dramatis. Tidak ada musik latar. Hanya dua orang yang saling menatap, lalu tersenyum—seolah berkata, “Oh, jadi kamu nyata.”